Sebuah Cerita Dari Pulau Buru

Abjad Pertama Judul Tulisan
G M S T U semuanya Daftar
04 29
Al-Jum'a, 20 Rabi Al-Awwal 1426 H - 22:08:34
oleh: May Wellyansyah

Umurnya paling tua 12 tahun. Matanya yang lebar, bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang putih pasti membuat kalian tidak percaya kalau dia orang asli Buru. Nama gadis kecil itu Nonce Nurlatu. Pertama ku bertemunya di rumah sakit umum Ambon. Mata indahnya dipenuhi air. Dokter sedang membersihkan luka di perutnya. Benang-benang hitam berderet di sebelah kanan pusarnya, berpegangan erat berusaha sekuat tenaga menyatukan kulit yang menganga.

Sekitar dua bulan sebelumnya, terjadi perang suku di kampungnya yang bernama Italahin. 9 orang telah menjadi korban. Mati ditombak atau dibacok parang. Dia sendiri terkena tombak di perutnya. Untung waktu itu tangannya yang kurus mengalasi perut. Tombak itu menembus tangannya dan terus melesak ke perutnya. (perang ini merupakan perang turun temurun antara 2 marga, sejak jaman bahulak, Nurlatu dan Latbual memang sudah saling menanam dendam. Mata balas mata, nyawa balas nyawa. Membunuh lebih banyak lawan menjadi suatu prestasi. Kedua keluarga besar ini berlomba untuk mengejar prestasi... bunuh lawan sebanyak mungkin. Konon masalahnya sederhana saja: pembayaran mas kawin yang belum lunas...)
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce kecil harus menunggu di kampungnya tanpa pengobatan sama sekali selama satu minggu, sebelum dia digotong dengan tandu menuju kampung terdekat, dimana kendaraan yang lebih modern bisa melarikannya ke rumah sakit. Perjalanan yang tidak gampang. Untuk mencapai dusun kecil bernama Waipcalit, satu hari satu malam, tandu sederhana itu dengan sabar menahan tubuh mungilnya. Sebuah truk terbuka menolong gadis malang itu menuju Namlea, ibu kota kabupaten yang berjarak 60 km. Bersamanya ada 3 korban yang lain. Seorang ibu dengan rahim menganga, setelah sebatang tombak memburaikan kandungannya dan merenggut janin didalamnya keluar, dan dua lelaki yang masing-masing luka di punggung dan di dada.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Namun luka-luka menganga mereka telah menunggu terlalu lama. Ulat-ulat gemuk yang entah dari mana datangnya telah berpesta dengan rakus menggerogoti daging yang mulai membusuk. Dua hari berlalu, tubuh ibu dengan rahim busuk itu tak kuasa mempertahankan nyawa melekat di raganya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Luka Nonce kecil ini telah dijahit. Dua bilah kulit mulai bersambung. Namun apa boleh dikata, malang belum mau berlalu dari bayangannya. Penanganan medis di kabupaten terpencil ini memang jauh dari standard.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Seminggu setelah dirawat, dia diijinkan pulang. Dari bekas jahitan di perutnya menyembul segumpal daging sebesar jempol tangan orang dewasa. Ternyata, ususnya “menonjol” keluar. Jahitannya kurang rapet...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Kebetulan Jrs (lembaga dimana aku bekerja) mendampingi penduduk asli di Waipcalit setelah mereka kembali dari pengungsian paska kerusuhan di pulau yang terkenal dengan tapolnya ini. Kami memberi bantuan biaya pengobatan di Ambon pada gadis mungil itu beserta seorang pasien yang lain. Tanpa menghiraukan lelahnya sel-sel kulit yang telah berhari-hari bere-generasi ini, pisau tajam dokter membedahnya kembali. Dengan paksa, usus nakal itu dimasukkan ke rongga perut yang gelap dan lembab. Kali ini lincah tangan ahli bedah Ambon merenda benang-benang hitam yang lebih kuat di perutnya yang tipis.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Singkat cerita, setelah hari-hari membosankan dilewatkan di rumah sakit, cucuran air mata yang tiap kali menghiasi kencan dengan ahli bedah yang tanpa perasaan mengusap kuat-kuat jahitan di samping pusarnya, tibalah saatnya Nonce kecil harus pulang kampung.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Nonce seng usah kembali ke gunung lagi saja pak Kani. Biar dia tinggal dan sekolah di Waipcalit saja,” kataku pada Bapak Kani, kerabat yang relatif lancar berbahasa Indonesia yang mengantarnya berobat ke Ambon (Nonce itu sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia perlu penerjemah ketika harus berkomunikasi dengan dokter)
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Seng bisa mas,” Kata lelaki berambut gondrong ini.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Barang kenapa?” tanyaku ingin tahu.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Kalo dia su sembuh, berarti paituanya pasti jemput untuk dibawa kembali ke gunung lagi,” sahutnya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Paitua? Jadi Nonce ini su kawin???” tanyaku tak percaya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
“Betul mas, su sejak kecil segini (dia mengangkat tangannya menggambarkan tinggi anak itu ketika pertama dikawinkan) dia dibawa paituanya ke gunung. Kawin piara toh,” terang dia kalem, seakan tak ada hal aneh di ceritanya.Aku yang tinggal terbengong-bengong, asyik bermain dengan pikiranku sendiri. Memang sudah sering kudengar sejak masih anak-anak perempuan-perempuan Buru dikawinkan. Bahkan ibu yang masih mengandungpun, anaknya (kalo perempuan) sudah “dibayar” lunas oleh lelaki berduit di sana. “Suami” yang telah membayar lunas anak perempuan bisa memelihara “istrinya” di rumah. Setelah siap dibuahi, diadakan upacara kecil untuk mensahkan perkawinan mereka.


1  2  » selanjutnya
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah

Artikel Catatan Perjalanan Lain

Menyelam, Membuat Rumah Ikan...
oleh Indrawadi
Jumat 22 Desember 2006 - 15:37:02
Al-Jum'a, 1 Dhul Hijja 1427 H - 15:37:02
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:10:22
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:10:22
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss...
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:09:44
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:09:44
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kamera pun di "Perkosa"
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:08:36
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:08:36
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaaaa...
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:04:22
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:04:22
Tragedi MI-2+ Call Sign P-5004 Polda Sumbar
oleh P 211 RG
Minggu 11 September 2005 - 20:39:18
Al-Ahad, 7 Sha'ban 1426 H - 20:39:18
Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Dengan Ban Bekas
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:36:08
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:36:08
Menjelajahi Negeri Bawah Air Kota Padang
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:16:37
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:16:37
Gunung Talakmau (3.005 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:37:14
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:37:14
Gunung Singgalang (2.877 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:35:29
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:35:29