Sebuah Cerita Dari Pulau Buru
| Abjad Pertama Judul Tulisan |
04 29 |
Al-Jum'a, 20 Rabi Al-Awwal 1426 H - 22:08:34
oleh: May Wellyansyah |
Umurnya paling tua 12 tahun. Matanya yang lebar, bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang putih pasti membuat kalian tidak percaya kalau dia orang asli Buru. Nama gadis kecil itu Nonce Nurlatu. Pertama ku bertemunya di rumah sakit umum Ambon. Mata indahnya dipenuhi air. Dokter sedang membersihkan luka di perutnya. Benang-benang hitam berderet di sebelah kanan pusarnya, berpegangan erat berusaha sekuat tenaga menyatukan kulit yang menganga.
Perempuan di Buru pedalaman, pada dasarnya adalah budak lelaki. Suami hanya duduk makan pinang, isap tembakau sementara istri setengah mati cari makan, masak, urus anak..., dipukul suami kalo suami lagi marah... dll. Bahkan di beberapa tempat di pedalaman Buru, para ibu ini melahirkan sendiri, tanpa ada pertolongan... ngeden sendiri, potong tali puser sendiri, keluarin ari2 sendiri...Setelah kemerdekaannya yang 59 tahun, Indonesia masih menyisakan cerita “ngenes” tentang anak negrinya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
2 hari setelah ibu-ibu ini melahirkan mereka sudah harus cuci pakaian sendiri sambil gendong bayinya dibelakang, lalu setelah itu cari kasbi (ubikayu) dihutan, parut kasbi untuk dibuat papeda (pati yang dikasih air panas... persiiss sekali dgn lem), masak untuk makan suaminya...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Kalo suami mati muda, sang istri yang sudah dibeli ini otomatis menjadi “milik” kakak atau adik almarhum suaminya. Dan jangan heran bila bapak mertua mengambil alih peran anaknya untuk mengawini (baca: menyetubuhi) mantunya dengan berbagai alasan, such as anaknya turun gunung dan tidak pulang-pulang atau anak kandung mati muda dll.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Disaat gadis-gadis lain seusiamu mulai belajar berdandan, Engkau sudah harus mulai belajar mencari ubi kayu di hutan, belajar memasak untuk melayani laki-laki yang telah “membelimu”.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Disaat gadis-gadis lain seusiamu sedang hobi-hobinya mejeng di mall, sibuk memilih baju2 mana yang fancy, Engkau tak punya pilihan ketika “tuanmu” menggerayangi pucuk dadamu yang mulai belajar tumbuh...Nonce, sudahkah benih “tuanmu” membuahi telur beliamu?? Ketika riang gadis seumuranmu bergema, dengan ransel baru di punggung berjingkrak-jingkrak merayakan hari pertama mereka mamakai seragam biru putih... Engkau tiap hari membanting tulang melayani “tuanmu” tanpa merasakan beratnya “ransel” perut berisi keturunanmu yang mangkin membuncit...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce, masih seberapa luaskah permukaan perutmu yang tidak dihiasi bekas luka... Karena runcing ujung tombak dan tajam parang musuh margamu selalu mengincar lembut dagingmu atas nama dendam orang tua-tua mereka...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce, aku tak kuasa berbuat apa-apa, hanya meminta yang aku bisa, semoga engkau diluputkan dari perang-perang berikutnya...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Sebuah Refleksi,
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Dengan berbagi cerita di atas, aku ingin membagi usahaku dalam mengatasi masalah “berkubang dalam kesedihan” ini. Ketika kita terus mendongak dan melihat keberuntungan-keberuntungan orang lain, kita menjadi semakin terperosok dalam kubangan yang kita gali sendiri... tapi nek kita sesekali mau melihat ke bawah, semisal membayangkan apa yang dihadapi Nonce... betapa buruk nasib yang menimpanya (paling kurang dari sudut pandang kita ya)... kok yo kuwat urip yo... kadang aku mikir ngono... Kita menjadi sadar betapa beruntungnya kita... kita jadi mengerti bahwa kita masih punya banyak hal yang bisa digunakan sebagai modal untuk memperbaiki hidup ini... yang akhirnya akan membangkitkan energi yang selama ini kita pusatkan pada kesedihan semata.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Buat rekan-rekan yang dikarunia talenta untuk selalu optimis menghadapi kerasnya hidup ini, bisa selalu melihat masalah sebagai tantangan, semoga cerita di atas bisa menjadi wacana yang mungkin bisa membangkitkan kepedulian sosial kalian sebagai sesama manusia, sesama warga Indonesia, sebagai sesama pribumi... Yah, paling tidak tau lah bahwa di belahan bumi yang lain, ada gadis kecil bernama Nonce Nurlatu dengan segala masalah yang ditanggungnya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Buat rekan-rekan yang mengaku feminis... atau paling tidak mempunyai teman yang feminis... cerita ini bukan fiksi, banyak Nonce2 yang lain yang butuh untuk diperjuangkan. Lebih baik berbuat sesuatu untuk mereka walaupun itu keciiil daripada mengumpat-umpat lelaki Buru yang memperbudak perempuan, paling nggak berdoa!!! Semoga kemajuan dan pendidikan cepat merubah budaya “beli” perempuan di tempat itu.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Akhir kata, maaf tidak bermaksud menggurui... hanya ingin berbagi.
Welly, wellymay@yahoo.com, 08151875465
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
---
barang kenapa=kenapa
paitua=suami
seng=tidak
su=sudah
sebelumnya « 1 2
Perempuan di Buru pedalaman, pada dasarnya adalah budak lelaki. Suami hanya duduk makan pinang, isap tembakau sementara istri setengah mati cari makan, masak, urus anak..., dipukul suami kalo suami lagi marah... dll. Bahkan di beberapa tempat di pedalaman Buru, para ibu ini melahirkan sendiri, tanpa ada pertolongan... ngeden sendiri, potong tali puser sendiri, keluarin ari2 sendiri...Setelah kemerdekaannya yang 59 tahun, Indonesia masih menyisakan cerita “ngenes” tentang anak negrinya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
2 hari setelah ibu-ibu ini melahirkan mereka sudah harus cuci pakaian sendiri sambil gendong bayinya dibelakang, lalu setelah itu cari kasbi (ubikayu) dihutan, parut kasbi untuk dibuat papeda (pati yang dikasih air panas... persiiss sekali dgn lem), masak untuk makan suaminya...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Kalo suami mati muda, sang istri yang sudah dibeli ini otomatis menjadi “milik” kakak atau adik almarhum suaminya. Dan jangan heran bila bapak mertua mengambil alih peran anaknya untuk mengawini (baca: menyetubuhi) mantunya dengan berbagai alasan, such as anaknya turun gunung dan tidak pulang-pulang atau anak kandung mati muda dll.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Disaat gadis-gadis lain seusiamu mulai belajar berdandan, Engkau sudah harus mulai belajar mencari ubi kayu di hutan, belajar memasak untuk melayani laki-laki yang telah “membelimu”.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Disaat gadis-gadis lain seusiamu sedang hobi-hobinya mejeng di mall, sibuk memilih baju2 mana yang fancy, Engkau tak punya pilihan ketika “tuanmu” menggerayangi pucuk dadamu yang mulai belajar tumbuh...Nonce, sudahkah benih “tuanmu” membuahi telur beliamu?? Ketika riang gadis seumuranmu bergema, dengan ransel baru di punggung berjingkrak-jingkrak merayakan hari pertama mereka mamakai seragam biru putih... Engkau tiap hari membanting tulang melayani “tuanmu” tanpa merasakan beratnya “ransel” perut berisi keturunanmu yang mangkin membuncit...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce, masih seberapa luaskah permukaan perutmu yang tidak dihiasi bekas luka... Karena runcing ujung tombak dan tajam parang musuh margamu selalu mengincar lembut dagingmu atas nama dendam orang tua-tua mereka...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Nonce, aku tak kuasa berbuat apa-apa, hanya meminta yang aku bisa, semoga engkau diluputkan dari perang-perang berikutnya...
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Sebuah Refleksi,
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Dengan berbagi cerita di atas, aku ingin membagi usahaku dalam mengatasi masalah “berkubang dalam kesedihan” ini. Ketika kita terus mendongak dan melihat keberuntungan-keberuntungan orang lain, kita menjadi semakin terperosok dalam kubangan yang kita gali sendiri... tapi nek kita sesekali mau melihat ke bawah, semisal membayangkan apa yang dihadapi Nonce... betapa buruk nasib yang menimpanya (paling kurang dari sudut pandang kita ya)... kok yo kuwat urip yo... kadang aku mikir ngono... Kita menjadi sadar betapa beruntungnya kita... kita jadi mengerti bahwa kita masih punya banyak hal yang bisa digunakan sebagai modal untuk memperbaiki hidup ini... yang akhirnya akan membangkitkan energi yang selama ini kita pusatkan pada kesedihan semata.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Buat rekan-rekan yang dikarunia talenta untuk selalu optimis menghadapi kerasnya hidup ini, bisa selalu melihat masalah sebagai tantangan, semoga cerita di atas bisa menjadi wacana yang mungkin bisa membangkitkan kepedulian sosial kalian sebagai sesama manusia, sesama warga Indonesia, sebagai sesama pribumi... Yah, paling tidak tau lah bahwa di belahan bumi yang lain, ada gadis kecil bernama Nonce Nurlatu dengan segala masalah yang ditanggungnya.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Buat rekan-rekan yang mengaku feminis... atau paling tidak mempunyai teman yang feminis... cerita ini bukan fiksi, banyak Nonce2 yang lain yang butuh untuk diperjuangkan. Lebih baik berbuat sesuatu untuk mereka walaupun itu keciiil daripada mengumpat-umpat lelaki Buru yang memperbudak perempuan, paling nggak berdoa!!! Semoga kemajuan dan pendidikan cepat merubah budaya “beli” perempuan di tempat itu.
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Akhir kata, maaf tidak bermaksud menggurui... hanya ingin berbagi.
Welly, wellymay@yahoo.com, 08151875465
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
---
barang kenapa=kenapa
paitua=suami
seng=tidak
su=sudah
sebelumnya « 1 2
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah
Artikel Catatan Perjalanan Lain
| Menyelam, Membuat Rumah Ikan... oleh Indrawadi Jumat 22 Desember 2006 - 15:37:02 Al-Jum'a, 1 Dhul Hijja 1427 H - 15:37:02 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:10:22 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:10:22 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss... oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:09:44 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:09:44 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kamera pun di "Perkosa" oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:08:36 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:08:36 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaaaa... oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:04:22 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:04:22 |
|
| Tragedi MI-2+ Call Sign P-5004 Polda Sumbar oleh P 211 RG Minggu 11 September 2005 - 20:39:18 Al-Ahad, 7 Sha'ban 1426 H - 20:39:18 |
|
| Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Dengan Ban Bekas oleh Indrawadi Rabu 29 Juni 2005 - 21:36:08 Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:36:08 |
|
| Menjelajahi Negeri Bawah Air Kota Padang oleh Indrawadi Rabu 29 Juni 2005 - 21:16:37 Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:16:37 |
|
| Gunung Talakmau (3.005 mdpl) oleh Gufron P 158 GP Sabtu 11 Juni 2005 - 21:37:14 As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:37:14 |
|
| Gunung Singgalang (2.877 mdpl) oleh Gufron P 158 GP Sabtu 11 Juni 2005 - 21:35:29 As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:35:29 |




