Menyelam, Membuat Rumah Ikan...
| Abjad Pertama Judul Tulisan |
12 22 |
Al-Jum'a, 1 Dhul Hijja 1427 H - 15:37:02
oleh: Indrawadi |
Perjalanan
Akhir pekan, minggu pertama bulan Desember lalu, 8 peneliti dan penyelam dari Yayasan Minang Bahari dan empat orang sukarelawan (volunteers) Diving Proklamator Universitas Bung Hatta berangkat dari pelabuhan Muaro Padang menuju Pulau Tangah, Padang Pariaman.
Cuaca pagi itu cukup cerah, dihangatkan pancaran sinar Matahari yang masih enggan menyapa Bumi di wilayah Padang. Kekhawatiran kami sirna mengingat sehari sebelumnya, wilayah Padang diguyur hujan deras. Kapal motor melaju dengan tenang di tengah perairan Kota Padang, membawa kami dan perlengkapan yang cukup banyak. Selama di perjalanan, kami mendiskusikan bentuk susunan beton yang akan dikerjakan di bawah air dengan melihat foto-foto beton yang disusun di darat.Kurang lebih tiga jam perjalanan dengan kapal nelayan berkekuatan 190 PS menyisir Pantai Padang, Pasir Jambak dan sampailah pada tujuan akhir kami, yaitu Pulau Tangah. Begitu kapal motor mendekati Pulau Tangah, ABK kapal motor segera membuka palka yang berisi ratusan beton. Beton-beton itulah yang nantinya akan kami susun di bawah air sebagai terumbu buatan (rumah ikan yang baru).
Selanjutnya, Samsuardi pimpinan tim dan sukarelawan dari Diving Proklamator yang juga ketua BEM Universitas Bung Hatta Mubruri Tanjung, bersiap-siap untuk turun dan memasang pelampung tanda tempat penurunan beton-beton tersebut, Yaser Arafat (putra Cucu Magek Dirih) mulai menyetting peralatan selam, sedangkan tim yang lain melakukan briefing untuk menyamakan persepsi tentang bentuk/struktur beton yang akan disusun di bawah air. Pada akhir briefing, dilakukan simulasi/peragaan penyusunan beton-beton yang dijadikan terumbu buatan di darat. Simulasi penting dilakukan mengingat bahwa nantinya tim tidak hanya sekadar menyelam tapi juga bekerja di bawah air.Terumbu buatan atau rumpon
Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan terumbu karang. Salah satu aktivitas yang menjadi momok kehidupan terumbu karang adalah penggunaan bom dan racun potassium cianida. Aktivitas ini yang mengakibatkan hancurnya terumbu karang dan hilangnya ikan-ikan yang menghuni di terumbu karang tersebut.Salah satu kegiatan yang dapat membantu ikan-ikan mendapatkan "rumah"-nya kembali adalah dengan membuatkan terumbu buatan (artificial reef) atau rumpon. Kedua kata ini kadang-kadang masih disamaartikan, padahal ada perbedaan yang mendasar. Terumbu buatan dan rumpon memiliki persamaan untuk membantu memberikan tempat bagi ikan dalam berkembang biak, dan dapat merangsang terbentuknya koloni terumbu karang. Sedangkan perbedaannya terletak pada konstruksinya, rumpon tidak perlu disusun di dalam laut, bahannya dapat berwujud apa saja, misalnya, becak, bus, bahkan kapal karam (tenggelam) pun dapat berfungsi sebagai rumpon, dan biasanya dijatuhkan atau ditenggelamkan pada perairan yang dalam. Sedang terumbu buatan, penempatannya harus disusun (menggunakan desain).
Penyusunan dapat dilakukan di darat atau pun di dalam laut. Bahannya juga bermacam-macam, dapat berupa ban, kayu, bambu atau beton. Letak terumbu buatan di dalam laut biasanya pada perairan dangkal (di hamparan terumbu karang yang rusak), hal ini karena setelah pemasangan terumbu buatan tersebut akan ada aktivitas lanjutan yaitu monitoring (pemantauan yang berkelanjutan).Pemasangan terumbu buatan yang dilakukan oleh Yayasan Minang Bahari hasil kerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Pariaman dibantu diver sukarelawan Diving Proklamator Universitas Bung Hatta ini adalah terumbu buatan berupa beton. Beton ini dibuat dari bahan semen dengan rangka dasarnya besi. Satu konstruksi terumbu buatan ini (seperti "piramid") terdapat 14 balok yang terdiri dari: 9 balok beton untuk dasar, 4 balok untuk tinkat 2 dan 1 balok untuk puncak dengan ukuran yang sama yaitu 50 cm x 50 cm dengan berat sekitar 50-60 kg.
Membuat rumah ikan
1 2 » selanjutnya
Artikel Catatan Perjalanan Lain
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:10:22 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:10:22 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss... oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:09:44 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:09:44 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kamera pun di "Perkosa" oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:08:36 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:08:36 |
|
| Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaaaa... oleh Idham P 171 TL Sabtu 16 Desember 2006 - 00:04:22 As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:04:22 |
|
| Tragedi MI-2+ Call Sign P-5004 Polda Sumbar oleh P 211 RG Minggu 11 September 2005 - 20:39:18 Al-Ahad, 7 Sha'ban 1426 H - 20:39:18 |
|
| Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Dengan Ban Bekas oleh Indrawadi Rabu 29 Juni 2005 - 21:36:08 Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:36:08 |
|
| Menjelajahi Negeri Bawah Air Kota Padang oleh Indrawadi Rabu 29 Juni 2005 - 21:16:37 Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:16:37 |
|
| Gunung Talakmau (3.005 mdpl) oleh Gufron P 158 GP Sabtu 11 Juni 2005 - 21:37:14 As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:37:14 |
|
| Gunung Singgalang (2.877 mdpl) oleh Gufron P 158 GP Sabtu 11 Juni 2005 - 21:35:29 As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:35:29 |
|
| Sebuah Cerita Dari Pulau Buru oleh May Wellyansyah Jumat 29 April 2005 - 22:08:34 Al-Jum'a, 20 Rabi Al-Awwal 1426 H - 22:08:34 |






