Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna

Abjad Pertama Judul Tulisan
G M S T U semuanya Daftar
12 16
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:10:22
oleh: Idham P 171 TL

Catatan perjalanan Idham Firmantara (P 171 TL), anggota Mapala Proklamator Univ. Bung Hatta yang juga reporter TV swasta Jakarta, selama mengikuti operasi SAR Heli Polda Sumbar di Bukit Sigiriak.

Diam-diam penyesalan datang. Mengapa aku begitu ceroboh berjalan di hutan tanpa mematuhi prosedur kegiatan alam terbuka (Prokat). Ini sungguh melanggar pakem di dunia petualangan. Inilah akibatnya. Di alam ini tidak ada petualang sejati, nyawa begitu mudah melayang. Aku sering terlibat operasi SAR gunung hutan, sangat merasakan betapa menderitanya tanpa makan, peralatan dan perlengkapan di hutan. Jangan-jangan aku nanti yang di SAR orang sebagaimana aku mengevakuasi korban hilang di gunung dulu. Aku tersenyum kecut.

Lama ku termenung mengenang masa lalu, waktu sering bertualang di gunung-gunung dan hutan, lembah dalam, tebing-tebing terjal, goa dan sungai-sungai berarus deras. Alam menyediakan segalanya dan merupakan guru yang paling baik bagi manusia.

Namun kali ini aku sungguh teledor. Padahal aku tinggal angkat aja seperangkat peralatan gunung hutan yang tergantung di rumah, yang ku persembahkan sebagai mahar kepada Fitri Nila Sari yang sekarang jadi istri ku. Kenapa aku tak membawanya?. "Hhuuuaaaahh..." teriak ku untuk mengusir dingin sambill merapatkan tubuh kepada kawan-kawan. Aku lihat teman ku berusaha tidur dalam dingin. Saya ingatkan jangan tidur, tetap begadang karena bisa tewas ketika tidur. Anjuran ini di patuhi dengan beberapa kali teriakan pengusir dingin . Malam ku lalui terasa panjang. Tak sabar aku menunggu pagi agar bisa melanjutkan perjalanan pulang. Dari jauh lampu-lampu tetap benderang. Kami berada sebaliknya.

Akhirnya fajar datang dengan senyum. Aku menggeliatkan tubuh berusaha bangkit. Tubuh terasa kaku dan kaki ku kesemutan. Sejenak aku diam dan menghirup udara segar melancarkan aliran darah. Embun terus menetes di dedaunan dan tubuh ku. Aku melihat wajah kedua temanku pucat pasi. Mereka tersenyum dan ku balas tak kalah pucatnya. Inilah senyum teramat manis walau kusam.

Beberapa saat kemudian teman-teman yang berada di bawah juga sudah bangun. Demikian juga Arset dan Bonar. "Ayooo kita jalan..." Teriak Arset. Perlahan kembali kami gapai akar pohon itu. Aku tercenung melihat di mana posisiku berada setelah matahari bersinar. Sungguh terjal dan kami berada di tebing batu rupaya. Nursyifman turun duluan, aku mengikuti kemudian Mardi.

Jalan panjang kami lalui, kembali tim di didepan menerabas dan mencari jalan tikus menuju sungai. Sepuluh menit berjalanan di hutan lumut, kami sampai di pinggir sungai.

Aku menghambur kedalamnya mencuci muka. Aku minum air alami ini sepuas-puasnya. Mungkin ada lima gelas. Hawa dingin terasa dalam perutku tetapi memberikan kesegaran baru. "preeeetttt..." suara kentutku sungguh nyaring dan nikmat. Teman-teman lain mengikuti cuci muka ada juga yang minum. Sengaja aku minum banyak mengantisipasi kekosongan perut.

Kami lewati sungai berarus deras ini dengan perpegangan. Lebarnya sekitar 17 meter. Kami berusaha lewat diantara batu dan menghindari arus derasnya. Sangat kompak. Kamera kami dulukan sampai di seberang dan dibantu oleh penduduk dan beberapa orang polisi. Kondisi mereka juga sudah lemah. Mardi meminta dia membawa ransel kamera karena dia lebih kuat.

Sampai di seberang sedikit rasa aman datang. Langkah kami ayunkan. Awalnya jalan datar-datar saja. Kemudian mulai mendaki, semakin lama semakin terjal. Tiba-tiba Nursyifman terpekik, tangannya tersangkut duri rotan. Aku dan Arset menghampiri. Darah mengucur. Tak lama kemudian darahnya berhenti dan perjalanan kami lanjutkan. Bonar dan Mardi menunggu di depan.

Kami lanjutkan perjalanan. Arset dan Nursifman membuang sepatunya karena robek sehingga menyulitkan berjalan. Lima menit berjalanan, Nursifman merasa pusing-pusing. Dari mulutnya keluar muntah warna kuning. Tampaknya asam lambungnya yang keluar. Nursyifman tidur di tanah sambil memejamkan mata. "Gaak usah kita paksakan, biar kita pelan saja. Stamina kita sudah terkuras," hibur saya sambil memberi semangat. Bonar Harahap dan Mardi telah berada diatas bukit. Tinggal saya dan seorang polisi yang sudah kepayahan saja lagi. Duduk di tanah.



1  2  » selanjutnya
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Penyesalan Tak Berguna oleh Idham P 171 TL

Artikel Catatan Perjalanan Lain

Menyelam, Membuat Rumah Ikan...
oleh Indrawadi
Jumat 22 Desember 2006 - 15:37:02
Al-Jum'a, 1 Dhul Hijja 1427 H - 15:37:02
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaa Boosss...
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:09:44
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:09:44
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kamera pun di "Perkosa"
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:08:36
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:08:36
Semalam di hutan Bukit Sigiriak: Kita Kompak-Kompak Ajaaaa...
oleh Idham P 171 TL
Sabtu 16 Desember 2006 - 00:04:22
As-Sabt, 25 Dhul Qada 1427 H - 00:04:22
Tragedi MI-2+ Call Sign P-5004 Polda Sumbar
oleh P 211 RG
Minggu 11 September 2005 - 20:39:18
Al-Ahad, 7 Sha'ban 1426 H - 20:39:18
Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang Dengan Ban Bekas
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:36:08
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:36:08
Menjelajahi Negeri Bawah Air Kota Padang
oleh Indrawadi
Rabu 29 Juni 2005 - 21:16:37
Al-Arba'a, 22 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:16:37
Gunung Talakmau (3.005 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:37:14
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:37:14
Gunung Singgalang (2.877 mdpl)
oleh Gufron P 158 GP
Sabtu 11 Juni 2005 - 21:35:29
As-Sabt, 4 Jumada Al-Ula 1426 H - 21:35:29
Sebuah Cerita Dari Pulau Buru
oleh May Wellyansyah
Jumat 29 April 2005 - 22:08:34
Al-Jum'a, 20 Rabi Al-Awwal 1426 H - 22:08:34